Senin, 11 Februari 2008
Jogja, 19 Desember 2007
Sebuah Pesan Pendek
Echa:
Tante Retno sudah berangkat? Hati-hati ya, makasih atas semua yang Tante berikan selama di Jogja. Kapan-kapan main lagi ya Tante. Sampai ketemu.
Tante Retno:
Belum. Bentar lagi. Masih ditungguin Bapak. Nanti kalau Tante libur lagi, Tante ke Jogja lagi. Atau Echa yang main ke rumah Tante ya. Kirim surat jangan lupa. Cium sayang buat adik-adik ya.
Sebuah Pesan Pendek
Echa:
Tante Retno sudah berangkat? Hati-hati ya, makasih atas semua yang Tante berikan selama di Jogja. Kapan-kapan main lagi ya Tante. Sampai ketemu.
Tante Retno:
Belum. Bentar lagi. Masih ditungguin Bapak. Nanti kalau Tante libur lagi, Tante ke Jogja lagi. Atau Echa yang main ke rumah Tante ya. Kirim surat jangan lupa. Cium sayang buat adik-adik ya.
Label: Tante Retno
Sabtu, 26 Januari 2008
Tante senang sekali baca puisi-puisi Echa yang dikirim Bapak terakhir. Banyak kemajuannya. Seperti baca puisi yang dibikin orang dewasa...
Tante harap Echa nggak berhenti latihan, supaya kita bisa segera punya bahan untuk bikin buku kumpulan puisi.
Kalau ada yang nggak ngerti, Echa bisa sms tante kapan aja. Atau minta Bapak supaya mau nganter Echa ke warnet biar kita bisa online di Yahoo Messenger.
Jangan sedih kalau ada acara lomba yang Echa harus hadiri sendiri, atau cuma ditunggui Ibu Guru atau Bapak.
Echa harus jadi anak yang kuat...
Lagipula Tante bukannya nggak ikut melihat dari sini. Melihatnya pakai hati :)
Kan Bapak juga suka kasih tau Tante kalo Echa sedang ikut kegiatan atau lomba...
Nanti kalo kita ketemu, Tante mau ajarin Echa lebih banyak lagi.
Nggak sabar ya nunggu bulan Maret :)
Label: Tante Retno
Minggu, 06 Januari 2008
Bangunlah ketika ayam
berseru-seru memanggil dini hari
dan matahari pamer sinar
bukalah jendela lebar-lebar
Hari ini milikmu
esok milikmu, juga masa lalu
Sekar, kau boleh pergi kemana kau mau
Langkahkan kaki dan melompat
di sepanjang nasib yang terbentang
seperti jalan bebas hambatan
Katakan masih ada semangat
kau simpan dalam tasmu
Kau kemas bersama bekal dan bukumu
Jangan pedulikan pemandangan indah di kanan
dan yang buruk di kiri
Melaju seperti pembalap ulung
dan yakin kemenangan di tanganmu
Sekar
adalah semangatmu kau tempa dalam banyak ujian
dan tahun-tahun keengganan
Sekar
adalah obsesimu
pergilah dan raih cakrawala
dari manapun kau harus mulai
-01.01.08-
berseru-seru memanggil dini hari
dan matahari pamer sinar
bukalah jendela lebar-lebar
Hari ini milikmu
esok milikmu, juga masa lalu
Sekar, kau boleh pergi kemana kau mau
Langkahkan kaki dan melompat
di sepanjang nasib yang terbentang
seperti jalan bebas hambatan
Katakan masih ada semangat
kau simpan dalam tasmu
Kau kemas bersama bekal dan bukumu
Jangan pedulikan pemandangan indah di kanan
dan yang buruk di kiri
Melaju seperti pembalap ulung
dan yakin kemenangan di tanganmu
Sekar
adalah semangatmu kau tempa dalam banyak ujian
dan tahun-tahun keengganan
Sekar
adalah obsesimu
pergilah dan raih cakrawala
dari manapun kau harus mulai
-01.01.08-
Label: Tante Retno
Senin, 31 Desember 2007
-Gadis Kecil, oleh Sapardi Djoko Damono-
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang-goyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang ada pohon dan seekor burung
Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
di tangan kanannya bergoyang-goyang payung
tangan kirinya mengibaskan tangis
di pinggir padang ada pohon dan seekor burung
Label: Tante Retno
Sabtu, 22 Desember 2007
Aku sayang gadis kecil ini.
Gadis kecil sepuluh tahun yang berlari ke kamar sambil tertawa malu diikuti adik-adik kecilnya, waktu aku datang ke rumahnya pertama kali. Ayahnya menggiring mereka menemuiku dan dia menatapku dengan mata bundarnya, penuh rasa ingin tahu.
Aku mengajak mereka mengobrol dan bercanda, dan si mata bundar itu memperlihatkan puisi-puisinya di komputer ayahnya.
Dia duduk di sebelahku, satu kursi berdua. Sambil merangkulnya, aku membaca puisi-puisinya.
Gadis kecil sepuluh tahun yang berlari ke kamar sambil tertawa malu diikuti adik-adik kecilnya, waktu aku datang ke rumahnya pertama kali. Ayahnya menggiring mereka menemuiku dan dia menatapku dengan mata bundarnya, penuh rasa ingin tahu.
Aku mengajak mereka mengobrol dan bercanda, dan si mata bundar itu memperlihatkan puisi-puisinya di komputer ayahnya.
Dia duduk di sebelahku, satu kursi berdua. Sambil merangkulnya, aku membaca puisi-puisinya.
Dan sungguh aku tak pernah sekagum itu pada seorang gadis kecil. Dia bukan gadis kecil biasa rupanya. Dia pandai mencurahkan isi hatinya menjadi rangkaian kata-kata indah dan mengharukan.
Malu-malu dia menerangkan makna setiap puisinya. Kebanyakan tentang almarhumah ibunya yang meninggal karena kanker payudara.
Begitu pedih. Begitu menyentuh. Dan kau tidak akan pernah bisa sungguh-sungguh memahami perasaannya jika masih memiliki seorang ibu yang selalu bisa memeluk dan dipeluk.
Begitu pedih. Begitu menyentuh. Dan kau tidak akan pernah bisa sungguh-sungguh memahami perasaannya jika masih memiliki seorang ibu yang selalu bisa memeluk dan dipeluk.
Gadis kecil ini membuatku takut kehilangan ibuku. Yang meskipun kadang-kadang bawel, tapi selalu menelepon ke ponselku menanyakan kabar atau menceritakan hal-hal sepele. Sekarang aku tahu, Ibu hanya ingin menunjukkan kepadaku bahwa dia selalu ada untukku.
Sebelum bertemu gadis kecil ini, aku tidak pernah menyadari bahwa aku sangat membutuhkan ibuku.
Sekarang, dia cuma punya ayahnya. Dan aku. Yang mencoba menjadi sahabatnya.
Dalam koleksi puisinya, aku menemukan puisi tentang ayahnya yang diberinya judul "Yang Tak Pernah Mengeluh."
Sebelum bertemu gadis kecil ini, aku tidak pernah menyadari bahwa aku sangat membutuhkan ibuku.
Sekarang, dia cuma punya ayahnya. Dan aku. Yang mencoba menjadi sahabatnya.
Dalam koleksi puisinya, aku menemukan puisi tentang ayahnya yang diberinya judul "Yang Tak Pernah Mengeluh."
Membuatku menangis terharu, karena aku tahu ayahnya sangat mencintai dia dan adik-adiknya.
Aku tahu, karena di setiap obrolan kami, ayahnya selalu menyelipkan cerita tentang gadis-gadis kecilnya....
Echa...
Seperti ibuku, aku akan mengirimimu sms atau menelponmu meski hanya untuk menceritakan hal-hal sepele. Aku ingin kamu tahu, aku juga selalu ada untukmu....
(Ditulis Tante Retno untuk Echa)
Label: Tante Retno
Sabtu, 01 Desember 2007
Blog ini dibuat untuk seorang gadis kecil manis berumur sepuluh tahun...
Yang bercita-cita menjadi penulis terkenal.
-Tante Retno-
Label: Tante Retno
;;
Subscribe to:
Postingan (Atom)






