Sabtu, 03 Januari 2009
Halo....
Sekarang lagi liburan sekitar tahun baru, kan, temen-temen?
Sama bapak, Echa udah diajak ke Pantai Siung & Wediombo, lho....
Seperti biasa naik honda pitung punya bapak, tapi kali ini tambah satu orang lagi, Tante Igo.
Bisa bayangin nggak, lima orang naik motor dari Yogya ke gunung Kidul???
Hehehe... ternyata seru juga, lho...
Apalagi waktu lagi musim hujan gini, di Gunung Kidul terlihat hijauuuuuuuuu semua.
hati ini turut terasa segar dan sejuk, deh...
Di Pantai Siung, gara-gara makan ikan laut, aku jadi alergi, di wajah, tangan dan kakiku muncul bentol-bentol merah yang rasanya gatel... Tapi nggak papa, lama-lama juga sembuh.
Setelah ke Pantai Siung yang terkenal dengan panjat tebingnya itu, kami langsung ke Wediombo. Di sana, aku sempat kenalan sama sepasang anak kembar, namanya Resa dan Risa. Nah, niatnya sih sore itu mau langsung pulang ke Yogya, tapi gara-gara hujan, akhirnya kami menginap dulu di rumah sederhana Mbah Tadi... Mbah Tadi tuh baek banget, lho, Naya sampe dikasih permen segala. Hehehe... yang udah ompong jadi tambah ompong dweh :)
Paginya, hari Selasa kami pun pulang ke Yogya. Seru, deh.......
Pinginnya sih cerita semuanya ke temen-temen langsung, tapi karena nggak mungkin, Echa tulis aja di sini. Kapan-kapan Echa sambung lagi, ya, byeeee........... :)
Label: kegiatan
Kamis, 04 Desember 2008
Perutku terasa melilit
Terbungkus kabut
Dan udara mati yang berdebu
Inikah perbedaan
Di antara jarak musim ?
Bukan halangan lagi
Bila kau melangkah
Mengambil pilihan
Meski kau tahu
Jalan ini,
Penuh perbedaan
Perutku makin sakit
Serasa dicubit
Ratusan jari tangan
Mau ke mana kita ?
Sampai kapan kau akan menyeretku
Ke jalan tanpa tujuan ini ?
Inikah perbedaan
Yang kutemui di sisi simpang
Lajur kiri dan kanan
Jalan mulai sepi
Adakah lagi tampakan
Dari suatu perbedaan ?
-17.03.2008-
Label: Puisi
Rabu, 17 September 2008
Rasanya malu aku bekerja
kalau sudah begini
sejenak saja tak luput
kau lemparkan pandangan sengit
padaku
Rasanya gerah dan tersiksa
hanya duduk diam di balik meja
menulis, menggumam
namun bukan dengan kata-kata
Hentikan memandangku seperti itu !
bila kau masih ingin menikmati
syair-syairku yang terlahir dari dalam hati
yang percuma
bila hanya kau tatap sebelah mata
Sudahlah,
kini syair itu tak lagi berguna.
-17.03.2008-
Label: Puisi
Senin, 08 September 2008
Sepulang sekolah,
Setelah tas dan buku kubanting ke lantai
Tubuh letihku rebah
di atas ranjang
Sehabis makan
Setelah kuurus sisa makan dalam piringku
Tubuhku rebah lagi
di atas anyaman tikar pandan
Sehabis mandi,
Setelah kulemparkan sikat ke dalam ember
Tubuhku rebah
ditelan busa kasur
Dan,
lagi-lagi kuterseret arus mimpi
dalam ombak busa
dan kekangenan terhadap dirimu,
o, wahai pelitaku
yang kini telah padam
selamanya.
Dalam doa 'ku terisak tangis
dan lagi aku rebah
di atas sajadah
-11.03.2008-
Label: Puisi
Senin, 25 Agustus 2008
Aduh....
Udah lama ya Echa nggak nulis di sini....
habis Bapak jarang nganter ke warnet sih
Echa kan belum pasang internet di rumah
Oya,
tadi di sekolah waktu sholat dhuha berjamaah Echa nangis
gara-gara ingat Ibu..
Echa ingat bagaimana dulu Ibu membimbing Echa
tapi ya sudahlah..........
apa yang sudah terjadi biarkan saja
Echa kan tidak perlu meratapinya...
namun Echa akan selalu ingat
tentang kasih Ibu kepada beta :)
Label: kisahku
Senin, 14 Juli 2008
Kedung Sekokop ini adalah tempat yang membuat orang dewasa seperti Bapak harus agak megap-megap ( sulit bernapas), sebab atap guanya merendah hingga mendekati permukaan air, dan orang dewasa harus melewatinya dengan berjongkok atau merunduk, sebab bila tidak kepala akan terbentur atap gua. Nah, karena harus berjongkok itulah, permukaan menjadi setinggi mulut dan membuat orang dewasa megap-megap. Tapi buat aku nggak, kok. Aku masih terlalu pendek sehingga atap gua yang rendah pun tak sampai menyentuh kepalaku. Tapi, ya, permukaan air setinggi dadaku membuatku agak megap-megap juga.
Bersama : Om Iyek, Om Lejan, Bapak, Tya, Naya, Tante Retno, Tante Igo.
Label: kegiatan
Lagi–lagi tatapan mata itu
menari–nari di hadapanku
seakan membayangi diriku
’tuk ucapkan kata rindu padamu
Bunda...
dalam keheningan malam
serta deras alir sungai penuh kebeningan
dan embun kabut yang selimutiku
selalu teringat saat–saat bahagia kita
dan kenangan yang masih membekas
tiada pernah pudar selamanya
dalam hatiku
Peluk hangatmu
yang terus baluri tubuhku
dengan doa penuh ketulusan
Kau berikan lagi
peluk hangat itu
Kau jalari lagi
peluk hangat itu
Pada tubuhku yang menggigil
kumal dan beradu dengan debu
Terimakasih, bunda.....
-21.01.2008-
Label: Puisi




